Cari Blog Ini

PENGEMBANGAN PROGRAM PEMBELAJARAN

PENGEMBANGAN PROGRAM PEMBELAJARAN
BAHASA ARAB

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Manajemen Pembelajaran Bahasa Arab

Dosen Pengampu:
Dr. AGUS ZAENUL FITRI, M.Pd

Disusun oleh:
Meilinda Cahyaningrum (NIM. 175415018)

PROGRAM PASCASARJANA
PENDIDIKAN BAHASA ARAB (PBA)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI (IAIN)
TULUNGAGUNG
2016

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Sekolah merupakan salah satu institusisosial yang memiliki peran strategis dalam pembinaan kepribadian anak. Di dalam sekolah terjadi proses transformasi kebudayaan kepada anak. Tentu saja, transformasi kebudayaan tersebut berlangsung melalui pembelajaran sesuai kurikulum yang berisikan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.
Pendidikan berfungsi sebagai institusisosial yang menjamin kelangsungan hidup generasi muda suatu bangsa. Baik pendidikan di sekolah (formal), keluarga (informal) maupun di masyarakat (non-formal) pada intinya untuk mengalihkan, dan mengembangkan kebudayaan agar kehidupan masyarakat survive sesuai dengan cita-cita bangsanya.
Kelancaran pelaksanaan pendidikan di sekolah sangat tergantung pada fungsi tidaknya manajemen sekolah.Didalam manajemen pendidikan meliputi seluruh proses dalam pendidikan mulai dari perencanaan, pengelolaan, evaluasi hingga pengembangan sekolah dalam pembelajaran.Semua pihak dalam pendidikan tentunya menginginkan hasil yang memuaskan dalam pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karenanya selalu diadakan upaya-upaya dalam mengembangkannya.

B.     Rumusan Masalah
1.    Bagaimanakah pengembangan program pembelajaranBahasa Arab?
2.    Bagaimanakah problematika pembelajaran Bahasa Arab?
3.    Bagaimanakah inovasi program Bahasa Arab?






BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pengembangan Program Pembelajaran
Pengembangan adalah suatu kegiatan yang menghasilkan sesuatu alat atau cara yang baru, dimana selama kegiatan tersebut penilaian dan penyempurnaan terhadap alat atau caratersebut terus dilakukan.[1] Selama kegiatan itu dilaksanakan dengan maksud mengadakan penyempurnaan yang akhirnya alat atau cara tersebut dipandang cukup bagus untuk digunakan seterusnya maka berakhirlah kegiatan pengembangan. Program diasumsikan sebagai rancangan kegiatan selama satu periode atau satu tahun. Menurut suharsimi program adalah sederetan kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.[2] Sedangkan pembelajaran adalah proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhlul hidup belajar, atau dikenal dengan istilah proses belajar mengajar.
Istilah pembelajaran lebih tepat bila dibandingkan proses belajar mengajar. Proses pembelajaran pada hakekatnya merupakan kegiatan utama dalam pendidikan. Sebagaimana beberapa pendapat, bahwa: “Proses dalam pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.[3]Proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan nomal di sekolah yang didalamnya terjadi interaksi antara berbagai komponen pembelajaran. Komponen-komponen itu dikelompokkan kedalam tiga kategori utama, yaitu guru, isi atau materi pelajaran, dan siswa”.[4]
Pengertian standar proses pembelajaran dapat dilihat pada peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2013 pada pasal 1 ayat 1 bahwa: “Standar Proses adalah kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.”[5]Dalam pembelajaran tidak lepas dari tiga komponen yang saling mendukung yaitu guru, siswa dan lingkungan belajar. Pembelajaran dapat diartikan sebagai sebuah proses interaksi antara guru, siswa, siswa dengan siswa dan siswa dengan sumber belajar. Tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik.
Berdasarkan penjelasan diatas pengertian pengembangan program pembelajaran bahasa Arab adalah suatu kegiatan menghasilkan suatu alat atau cara yang baru terkait perencanaan kesatuan unit kegiatan yang berkesinambungan dalam proses pembelajaran bahasa Arab, yang memiliki tujuan yang telah ditetapkan yang berasal dari standart kompetensi.

B.     Problematika Pembelajaran Bahasa Arab
Pembelajaran bahasa Arab bagi non Arab dimulai dari pertama kali pada abad k-17, pembelajaran dengan berbagai karakteristiknya serta motivasi mempelajarinya di kalangan masyarakat  non Arab tetap saja memiliki banyak kenndala dan problematika yang dihadapi  karena bahasa Arab tetap bukanlah bahasa yang mudah untuk dikuasai secara total. Problematika yang biasanya muncul dalam pembelajaran  bahasa Arab bagi non Arab terbagi  kedalam dua bagian, problematika linguistik dan non linguistik.[6] Termasuk problematika linguistik ialahfonologi (‘ilm al-Ashwat), morfologi (‘ilm al-Sharf), sintaksis (‘ilm al-Nahwi), dan semantik (‘ilm al-Ma’ani). Sementara yang termasuk problem non linguistik  yang paling utama adalah yang menyangkut perbedaan sosiokultural  masyarakat Arab dengan masyarakat non Arab. Berikut penjelasan problematika aspek linguistik yaitu:
1.    Aspek Fonetik
Aspek fonetik adalah ilmu yang mempelajari cata pengucapan, penyampaian dan penghasilan bahasa sebagai sebuah karakter umum yang terdapat dalam semua bahasa.[7] Fonetik sebagai salah satu bidang ilmu yang membahas bunyi tertentu, dimana bunyi tersebut diselidiki dalam bentuk pelafalannya dan menurut sifat-sifat akuistiknya. Sedangkan ilmu fonologi meneliti bunyi bahasa tertentu menurut fungsinya.
Sebagai contoh perbedaan bahasa Arab dengan bahasa Ibu dapat dilihat dari fonem “ أ “ hamzah ( a ) bahasa Indonesia dengan “ ع “ ‘ain ( ‘a ) dalam bahasa Arab, kedua fonem tersebut membedakan makna, seperti pada kata “ امل ” dengan kata “ عمل ”. Dimana orang Arab tidak pernah mengucapkan dua bunyi tersebut.
Dalam bahasa Indonesia terdapat juga huruf yang tidak ada dalam bahasa Arab, seperti C, G, P, V, dan berbagai fonem, seperti CH, NG, NY. Perbedaan-perbedaan tersebut, ternyata menimbulkan kesulitan bagi pelajar untuk mempelajari bahasa Arab. Maka dalam hal ini seorang pengajar harus dapat mengimbangi kesalahan-kesalahan tersebut, sehingga tidak menimbulkan kesan bahwa bahasa Arab sulit dipelajari.
2.    Aspek Morfologi
Ilmu ini merupakan bagian dari sintaksis yang mempelajari morfem. Dalam bahasa Arab ilmu ini disepadankan dengan علم الصـرفyang mencakup tashrif dan isytiqaq, dimana tashrif ini ada pada isytiqaq, sementara istiqaq tidak bererti tasfrif, tetapi hasil isytiqaq dapat ditashrif. ‘Ilm al-sharf adalah ilmu yang membahas bentuk kata bahasa Arab baik dari segi konstruksi atau format “bina” suatu lafaz untuk mengetahui prinsip-prinsip huruf, perubahan, pembuangan/penghapusan, penukaran dan kesempurnaan.[8]
 Lebih jelasnya perbedaan morfologi dalam bahasa Arab dan bahasa Indonesia dapat dilihat, bahwa proses pembentukan kata dalam bahasa Indonesia dilakukan dengan penambahan kata, seperti kata “tulis”; akhiran (sufiks) dalam kalimat Ali menulis tulisan; imbuhan (prefiks), seperti “di” pada kalimat Tulisan ditulis; sisipan (infiks), seperti “le” pada kalimat Bumi menggeletar, serta pengulangan kata dalam kalimat Ali menulis-niliskan pensilnya.
Sementara dalam bahasa Arab perubahan dan pembentukan katanya dilakukan dangan pengubahan kata dasarnya kepada beberapa bentuk sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ada atau juga sering disebut dengan isytiqaq (derivation), yaitu membentuk kata baru dari akar kata yang sama dan mempunyai saling keterkaitan makna. Maka dalam hal ini seorang guru tidak mesti harus memberikan secara keseluruhan, tetapi dapat dilakukan dengan pembelajaran yang intensif seperti yang dilakukan di berbagai pesantren dan lembaga pembelajaran bahasa Arab pada masa klasik, sehingga tidak meninggalkan kesan perubahan tersebut membawa kepada kesulitan dan kebosanan mempelajari bahasa Arab.
3.    Aspek Sintaksis
Dalam bahasa Arab ilmu ini dikenal dengan “ilm al-Nahwi/Qawa’id, dimana ilmu ia mempelajari bagaimana pemakaian kata dalam kalimat, pembentukan susuna kalimat dengan tepat dan benar.[9]
Perubahan-perubahan yang terjadi dalam bahasa juga menjadi sebuah fenomena yang sangat sulit sekali dalam mempelajari bahasa Arab, karena terdapatnya perbedaan yang signifikan antara struktur kalimat (jumlah) dalam bahasa Arab dengan bahasa Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari penjelasan di bawah ini:
a.       Segi ‘Irab, dimana ilmu ini membidangi tentang harakah akhir kata, seperti kata مقعد, dimana kata ini bisa di baca rofa’, kasrah, dan nashab, sesuai dengan posisinya dalam kalimat. Disamping itu pada bagian pertama harus ada persesuaian kata demi kata, dimana antara predikat (fi’il) dengan subyek (fa’il) harus sesuai. Demikian juga pada mudzakkar sama mudzakkar dan muannats sama muannats, serta berlaku pada bilangan, bila mubtada’nya mufrad maka khobarnya harus mufrad dan seterusnya.
b.      Segi struktur kalimat, dimana dalam bahasa Arab dikenal dua bentuk jumlah, yaitu verbal (jumlah fi’liyah) dan nominal (jumlah ismiyah). Sedangkan bahasa Indonesia hanya mengenal kalima nominal “kamu siswa yang cerdas” (أنت طالب ذكى), hal ini tidak menimbulkan kesulitan.
4.    Aspek Semantik
obyek semantik yakni makna berada diseluruh atau semua tataran dengan bangunan-bangunan yang ada, yaitu berada dalam tataran fonologi, morfologi dan sintaksis.
Dalam bahasa Arab istilah ini dikenal dengan علم المعنى atau علم الدلالة . Semantik adalah bagian dari linguistik yang mempelajari teori makna. Secara umum semantik mempelajari arti menurut aspek kata dan kalimat, tetapi dalam batas sosial tertentu
Dalam mempelajari semantik, perlu kiranya kita mengetahui tentang idiomatik bahasa Arab yang secara khusus belum dijumpai sampai sekarang. Karena tanpa ilmu ini orang akan bisa salah mengartikan kalimat dalam bahasa Arab, seperti kata قضـى sering hanya di artikan memutuskan atau menghukum. Padahal artinya bermacam-macam menurut konteksnya, seperti pada kalimat قضـى الاسـلام بـتنظيم المجتمع artinya menghendaki.
Pergeseran makna seperti yang disebutkan di atas, dapat menimbulkan kesulitan bagai pembelajar untuk menentukan makna suatu kata yang sebenarnya (antara bahasa Arab dengan bahasa Indonesia) ketika mereka ingin menerjemahkan kata tersebut, apalagi kata tersebut mengandung idiomatik dan kata yang diadopsi dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia.[10]
5.      Faktor Sosio-kultural
Problem yang mungkin muncul ialah bahwa ungkapan-ungkapan , istilah-istilah dan nama-nama benda yang tidak terdapat dalam bahasa indonesia tidak mudah dan tidak cepat dipahami oleh pelajar indonesia yang sama sekali belum mengenal sosial dan budaya bangsa Arab.
6.    Faktor buku ajar
Buku ajar yang tidak memperhatikan prinsip-prinsip penyajian materi bahasa Arab sebagai bahasa asing akan menjadi problem tersendiri dalam pencapaian tujuan prinsip-prinsip tersebut antara lain seleksi, gradasi, dan korelasi.
7.    Faktor lingkungan sosial
Belajar bahasa yang efektif adalah membawa pelajar kedalam lingkungan bahasa yang dipelajari. Dengan lingkungan tersebut setiap pelajar akan dipaksa untuk menggunakan bahasa tersebut sehingga perkembangan penguasaan bahasa yang dipelajarinya relatif lebih cepat dibandingkan dengan mereka yang tidak ada dilingkungan bahasa tersebut. Hal ini karena lingkungan akan membuatnya terbiasa menggunakan suatu bahasa secara terus menerus untuk menyampaikan maksud dan tujuan dalam hatinya.[11]

C.    Pengembangan Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab
Inovasi dimaksudkan di sini ialah suatu perubahan yang baru dan bersifat kualitatif, berbeda dari hal yang ada sebelumnya serta sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan dalam rangka pencapaian tujuan tertentu dalam pendidikan.[12]
Inovation atau yang sering diartikan sebagai inovasi dapat diterjemahkan sebagai pembaharuan terhadap sesuatu atau penemuan sesuatu yang baru. Kata inovasi sering dipakai dalam hal yang berkaitan dengan penemuan, karena hal yang baru itu merupakan hasil penemuan. Penemuan itu dapat digunakan untuk menterjemahkan kata “discovery” dan “invention”.[13] Inovasi juga sering dikaitkan dengan modernisasi, karena keduanya sama-sama membicarakan tentang pembaharuan. Inovasi dapat mengandung arti penemuan terhadap sesuatu yang baru, baik hal yang baru itu memang sudah ada sejak lama namun baru diketahui atau hal tersebut dulunya tidak ada dan sekarang menjadi ada (dari yang tidak ada menjadi ada).[14]
Kebaruan pembelajaran merupakan suatu proses perubahan atau pembaharuan dalam sistem pembelajaran dimana pembelajaran yang telah ada dibarukan menjadi baru. Sebagai contoh sistem pembelajaran sebelumnya menerapkan sistem catur wulan dalam kurikulum pembelajarannya dan sekarang dibarukan menjadi sistem semester. Pada dasarnya tidak ada perbedaan yang mendasar mengenai istilah-istilah diatas, semua definisi di atas menyatakan bahwa inovasi ialah suatu ide atau barang buatan manusia yang diamati sebagai sesuatu yang baru bagi sekelompok masyarakat yang dapat berupa diskoveri maupun invensi dan digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Seperti halnya bahawa program pembelajaran juga ada inovasi.
Inovasi progam pembelajaran bahasa Arab sama dengan pengembangan program materi pelajaran yang lain yaitu meliputi program tahunan, program semester, silabus pembelajaran, dan rancangan program pembelajaran.
1.        Program Tahunan
Perencanaan ini berfungsi sebagai rencana jangka panjang (general long-rang planning) untuk sekolah. Disusun berdasarkan kurikulum yang memberikan bahan-bahan tentang pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan bagi murid pada setiap kelas/tingkat. Setiap Kurikulumberisikan pokok-pokok pelajaran. Kalau kurikulum belum teruraikan maka sebaiknya guru berusaha membuat uraiannya dalam bentuk suatu rencana tahunan, untuk setiap mata pelajaran.
Program tahunan adalah rencana penetapan alokasi waktu satu tahun untuk mencapai tujuan (SK dan KD) yang telah ditetapkan. Penetapan alokasi waktu diperlukan agar seluruh kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum seluruhnya dapat dicapai oleh siswa. Penentuan alokasi waktu ditentukan pada jumlah jam pelajaran sesuai dengan struktur kurikulum yang berlaku serta keluasan materi yang harus dikuasai oleh siswa.[15]
Program Tahunan merupakan program umum setiap mata pelajaran untuk setiap kelas, berisi tentang garis-garis besar yang hendak dicapai dalam satu tahun dan dikembangkan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan program ini perlu dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum tahun pelajaran dimulai, karena merupakan pedoman bagi pengembangan program-program berikutnya, yakni program semester, mingguan dan harian serta pembuatan silabus dan sistem penilaian komponen-komponen program tahunan meliputi identifikasi(satuan pendidikan, mata pelajaran, tahun pelajaran) standart kompetensi, kompetensi dasar, alokasi waktu dan keterangan.[16]

2.        Program Semester
Semester adalah satuan waktu yang digunakan untuk penyelenggaraan program pendidikan. Kegiatan yang dilaksanakan dalam semester ituialah kegiatan tatap muka, praktikum, keraja lapangan, mid semester, ujian semester dan berbagai kegiatan lainya yang diberi penilaian keberhasilan. Program semester berisikangaris-garis besar mengenai hal-hal yang hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut. Program semester ini merupakan penjabaran dari program tahunan.[17]Pada umumnya program semester ini berisikan tentang bulan, pokok bahasan yang hendak disampaikan, waktu yang direncanakan, danketerangan-keterangan.[18]
3.        Silabus Pembelajaran
Istilah silabus dapat didefinisikan sebagai “garis besar, ringkasan, ihktisar, atau pokok-pokok isi atau materi pelajaran”.Silabus merupakan seperangkat rencana serta pengaturan pelaksanaan pembelajaran dan penilaian yang disusun secara sistematis memuatkompenen-komponen yang saling berkaitan untuk mencapai penguasaan kompetensi dasar.
4.        RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)
Rencana pengajaran terdiri dari sejumlah komponen yang jika dipadukan memberikan garis besar  atau panduan bagi penyampaian pengajaran efektif kepada para pengajar.[19]RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif,inspiratif, dan  menyenangkan.













BAB III
ANALISIS


Tahap perencanan merupakan langkah awal dalam pengembangan suatu program. Perencanaan program yang dilaksanakan secara konprehensip, tentunya akan mencapai sasaran program dan pengembangannya. Pada tahap pengembangan program seharusnya dipersiapkan sumber daya pendukung program pembelajaran bahasa Arab. Sumber daya ini diperlukan agar implementasi program pembelajaran bahasa Arab dapat terlaksana dengan optimal. Sumber daya pendukung program meliputi sumber daya bahan dan manusia.
Sumber daya bahan meliputi kurikulum, perangkat pembelajaran dan bahan ajar. Dan faktanya, kurikulum pembelajaran bahasa Arab di indonesia ditemukan tingkat kompleksitas kurikulum yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari struktur standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ada pada masing-masing kelas. Bahan ajar yang digunakan untuk pembelajaran bahasa Arab dari madrasah dengan kompleksitas tinggi, bahkan kurang memperhatikan  psikologi pertumbuhan siswa. Dari sisi ini guru harus mengembangkan program pembelajaran yang digunakan untuk mengimplementasikan bahasa Arab agar bisa sampai pada tujuan pembelajaran.
Problematika yang menonjol pada pembelajaran bahasa Arab secara profesional kurang sesuai dengan keahlian pendidik yang dimiliki. Hal ini dalam implementasi pembelajaran bahasa Arab, guru bahasa Arab harus kreatif dan inovatif dalam pembelajarannya.












قائمة المفردات
Pengembangan
التطوير
Program
البرنامج
Pembelajaran
التعلم
Problem
المشكلة
Inovasi
الإبتكار
Proses
العملية
Interaksi
التفاعل
Komponen
المكوّن
Standar
المعيار
Unit
الوحدات
StandarKompetensi
معيار الكفاءة
KompetensiDasar
الكفاءات الأساسية
Fonologi
علم الأصوات
Morfologi
علم الصرف
sintaksis
علم النحو
semantik
علم المعانى
Derivasi
الإشتقق
Sosio-Kultural
الاجتماعية والثقافية
Program Tahunan
البرنامجالسنوي
Kurikulum
المناهج الدراسية
AlokasiWaktu
تخصيصالوقت
Program Semester
برنامج المرحلة
Silabus
مخطط منهج الدراسي
RPP
خطةالدرس






DAFTAR PUSTAKA


al-Jurjani, Al-Syarif Ali bin Muhammad.Kitab al-ta’rifat. Bairut: Dar al-Kutub al-:ilmiyah
al-Tunji, Muhammad, dkk. 1993. Al-mu’jam al-mufashshal Fi ‘Ulum al-Lughah (al-Lisaniyah. Bairut: Dar al-Kutub Al-Islamiyah,
Arikunto,Suharsimi. 1988.Penilaian program pendidikan. Jakarta: PT. BINA AKSARA
Babaty, Azizah Fawwal.1992.Al-Mu’jam al-Mufashshal fi Al-Nahwi al-‘Araby. Bairut: Dar al-Kutub al-Islamiyah
Hamalik,Umar. 2004.Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT Rosdakarya
Hermawan, Acep. 2011. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Rosdakarya
Irawan, Kurikulum Berbasis Masyarakat, dalam http://dheo-education.blogspot.com/2008/05/kurikulum-berbasis-masyarakat.html, tanggal akses 09 Desember 2015
Kusumirahayu ira, Menyelami Makna Inovasi, dalam http://edukasi.kompasiana.com/2011/09/22/menyelami-makna-inovasi/, tanggal akses 09 Desember 2015
Mulyasa, E.2008.Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Mulyasa,E.2010.Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Muntasir,M. Saleh. 1985. Pengajaran Terprogram. Jakarta : CV Rajawali
Nasution,Syafaruddin-irwan. 2005.Manajemen Pembelajaran. Jakarta: Quantum Teaching
Peraturan Pemerintah RI, Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan Nasional Perubahan atas PP No. 19 tahun 2015
Sanjaya, Wina. 2010. PerencanaandanDesainSistemPembelajaran. Jakarta: Kencana
Setiawan,Ebta.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Aplikasi: KBBI V.11
Sumiati, dkk. 2009.Metode pembelajaran Rumpun Pembelajaran Efektif. Bandung: Wacana Prima
Sutopo, Hendayat, dkk. 1993.Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum Sebagai Substansi Problem Administrasi Pendidikan.Jakarta: Bumi Aksara
Wafi,Ali Abdul Wahid.Figh Lughah. Kairo: Dar al-Nahdhah, t.th




[1]Hendayat Sutopo, Westi Soemanto, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum Sebagai Substansi Problem Administrasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), hlm. 45
[2] Suharsimi Arikunto, Penilaian program pendidikan, (Jakarta: PT. BINA AKSARA, 1988), hlm.1

[4]Sumiati dan Asra, Metode pembelajaran Rumpun Pembelajaran Efektif, (Bandung: Wacana Prima, 2009), hlm. 3
[5] Peraturan Pemerintah RI, Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan Nasional Perubahan atas PP No. 19 tahun 2015
[6]Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: Rosdakarya, 2011), hlm. 100
[7]Muhammad al-Tunji dan Raji al-Asmar, Al-mu’jam al-mufashshal Fi ‘Ulum al-Lughah (al-Lisaniyah), (Bairut: Dar al-Kutub Al-Islamiyah, 1993), hlm. 399
[8]Azizah Fawwal Babaty, Al-Mu’jam al-Mufashshal fi Al-Nahwi al-‘Araby, (Bairut: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1992), hlm. 573
[9]Al-Syarif Ali bin Muhammad al-Jurjani, Kitab al-ta’rifat, (Bairut: Dar al-Kutub al-:ilmiyah, 1988), hlm. 240
[10] Ali Abdul Wahid Wafi, Figh Lughah, (Kairo: Dar al-Nahdhah, t.th), hlm. 8-9
[11] Acep Hermawan, Metodologi..., hlm. 106-107
[12] M. Saleh Muntasir, Pengajaran Terprogram, (Jakarta : CV Rajawali, 1985), hlm. 17
[13]Kusumirahayu ira, Menyelami Makna Inovasi, dalam http://edukasi.kompasiana.com/2011/09/22/menyelami-makna-inovasi/, tanggal akses 09 Desember 2015
[14]Irawan, Kurikulum Berbasis Masyarakat, dalam http://dheo-education.blogspot.com/2008/05/kurikulum-berbasis-masyarakat.html, tanggal akses 09 Desember 2015
[15]WinaSanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm.52
[16] Umar Hamalik, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Bandung: PT Rosdakarya, 2004), hlm.95
[17] E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008) Hal. 98
[18] E. Mulyasa, Kurikulum…, hlm. 98
[19] Syafaruddin-irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran, (Jakarta: Quantum Teaching, 2005), hlm. 91

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENGEMIS SEBAGAI PROFESI DAN BUDAYA DI INDONESIA

MENGEMIS SEBAGAI PROFESI DAN BUDAYA DI INDONESIA MAKALAH UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH Pendidikan Agama Islam yang Dibina Ole...